Feeds:
Pos
Komentar

• Naturalis Religius, faham yang memisahkan antara Tuhan dan alam. Mereka mengacu pada definisi yang dibuat oleh Charley Hardwick yang menyatakan bahwa seluruh sebab adalah sebab-sebab natural. Hanya alamlah yang riil, selain itu semu.

• Secara keseluruhan alam dapat dimengerti tanpa memerlukan eksistensi semacam “agen cerdas” yang superpersonal. Dengan demikian tidak ada intervensi Tuhan dalam kehidupan manusiawi, tidak ada suatu eksistensi yang begitu peduli pada kehidupan manusia.

• Descartes (1596-1650) seorang philosof barat yang menyatakan cogito ergo sum (saya berfikir, maka saya ada). Ia membelah realitas kehidupan menjadi dua lisme, yaitu alam fisikal dan akal budi yang terpisah sama sekali.

• Alam fisikal adalah sebagai sebuah mesin yang independen dan otonom yang bebas dari makna transenden-illahiahnya serta murni materialistik. Benda fisikal berada dalam wilayah hukum fisika, deterministik, sementara akal berada pada wilayah lain yang berbeda sama sekali.

• Benda fisik adalah partikel dengan ukuran dan bentuk yang bergerak sesuai dengan hukum mekanik, yaitu sesuatu yang memiliki masa dan menempati ruang (geometri). Setelah Tuhan menciptakan alam, seperti “pembuat arloji (watchmaker)”, maka peran-Nya usai. Tak ada lagi peran Tuhan di alam, yang ada hanya hukum geometri-mekanik. Penganut azas watchmaker diantaranya Newton, Galileo dan Darwin.

• Darwin, melalui The Origin of Species memaklumatkan bahwa mahluk hidup tercipta tanpa tujuan. Tak ada peran Tuhan, mereka berjuang sendiri berdasarkan konsep acak (serba kebetulan) dan seleksi alam.

• Galileo dan Newton : Perputaran planet dan gerak benda telah terbukti tunduk oleh hukum mekanik gravitasi yang materialistik.

Cara dan landasan berfikir moderen yang sekuler tersebut didasarkan atas tiga macam, yaitu :
1. Metoda analitis
2. Hukum kausalitas
3. Reduksionisme-mekanik-deterministik

Metoda analitis memandang alam secara struktur-analitis melalui bagian-bagiannya. Segala akibat yang muncul dalam setiap fenomena alam dilacak penyebabnya ke dalam sebab-sebab yang ada dalam bagian-bagian benda itu. Cara ini mirip dengan mereparasi arloji, mesin mobil atau dokter yang mendiagnosis penyakit pasennya. Setiap benda dapat direduksi ke dalam bagian-bagiannya. Model berfikir seperti ini diadop oleh Sigmund Freud untuk Ilmu Jiwa dan Karl Marx untuk Sosilogi.

Hatur lumayan.
Silakan lengkapi sendiri …

G3

Dulu nenek moyang kita, konon katanya aktivitas hariannya tak berbeda dengan mahluk hidup sejenis lainnya, hanya memenuhi kebutuhan primernya saja yaitu mengisi perut dengan cara berburu serta memakan daun dan buah yang tumbuh secara liar. Semua yang mereka lakukan hanyalah untuk sekadar bertahan hidup saja.
Tak ada yang perlu mereka fikirkan, bahkan sebenarnya tak sempat mereka berfikir karena hari-harinya penuh dengan rutinitas seperti itu.
Konon katanya, desa yang pertama kali ada terdapat di Irak sekitar 10.000 tahun yang lalu. Ini adalah bukti paling awal yang menunjukkan bahwa manusia saat itu mulai lebih banyak berccocok tanam ketimbang berburu. Dari sinilah awal peradaban moderen dimulai, dari wilayah yang terletak diantara S. Sffrat dan S. Tigris.
Peralihan dari berburu ke bercocok tanam (neo lithikum), mengakibatkan pergeseran paradigma dalam perkembangan manusia dalam organisasi dan pemahaman kemasyarakatan.
Memelihara hewan dan bercocok tanam membawa manusia ke tempat hunian. Ketika manusia menetap menjadi masyarakat petani, mereka mempunyai lebih banyak waktu dan energi untuk berfikir dan mengagumi. Kini kehidupan tidak lagi hanya seputar pergumulan untuk bertahan hidup dengan cara berburu yang berisiko sangat tinggi.
Awal kali berfikir adalah mencoba memetakan dunia mereka sehingga mereka dapat mengontrol dan merintis jalan untuk menerobosnya. Ditemukanlah bahwa peredaran bulan dan matahari di langit memiliki keteraturan, datang dan perginya musim dapat diprediksi. Ini semua tentu sangat berguna bagi petani pemula, yang lalu tahu kapan mereka musti menabur benih dan kapan akan menuai.
Sewaktu sedang tidak berburu, nenek moyang kita selalu bekerja menyiapkan panah dan tombak,… yang kemudian digunakan untuk berburu lagi.

Ketika rutinitas harian manusia hanya pulang-pergi rumah-kantor, rumah-kantor, dan itu hanya sekadar cukup untuk menyambung hidupnya, apa yang dilakukan saat-sat libur seperti ini ?  Untuk semacam saya yang gaweannya mengajar, tentu nggak ada lagi kecuali harus terus dan terus menerus membaca buku-buku untuk mempersiapkan mengajar besok hari, seperti halnya dulu para pemburu menyiapkan panah dan tombak ?
Kapan kita punya waktu untuk berfikir yang sesungguhnya seperti halnya para petani pada awal mulanya ?

Bila anda berniat menunaikan Rukun Islam yang ke-5, yaitu melaksanakan Ibadah Haji, maka lebih dulu pelajarilah secara saksama tatacara (manasik) hajinya. Ada tiga macam ibadah haji yaitu : Haji Tamattu, Haji Qiran, dan Haji Ifrad. Untuk orang Indonesia (dan  jamaah dari luar Saudi) , umumnya melaksanakan Haji Tamattu.

Dibawah ini terlampir skema singkat tatacara Ibadah Haji Tamattu yg dirangkum dari sumber-sumber yang shahih.

Untuk rombongan haji yang pertama, pesawat terbang akan mendarat di Madinah. Dengan demikian miqatnya adalah di Bir Ali (bagi laki-laki berpakaian ihramnya dimulai dari Bir Ali).

Untuk rombongan haji ke-2, pesawat terbang akan mendarat di Jeddah yang lebih dulu akan melewati batas miqat di Qornul Manajil. Oleh karena itu jamaah harus mulai berihram diatas pesawat, yaitu paling lambat  sekitar 1/2 jam sebelum pesawat mendarat (awak pesawat akan memberi tahu).

CATATAN PENTING DAN PERHATIAN

– Ibadah haji adalah kewajiban individual (fardu ‘Ain) dengan demikian tatacaranya harus dipelajari sendiri, jangan   sekali-kali menyerahkan sepenuhnya pada KBIH.

– Jangan silau terhadap kebesaran nama KBIH, tapi tanyakan dulu bagaimana tatacara haji yg akan dilaksanakan oleh KBIH yang bersangkutan. Pilih hanya KBIH yang programnya sesuai sunah Nabi yang akan anda ikuti

– Tidak ada Umrah Sunah yang dilakukan setelah selesai melaksanakan ibadah Haji. Umroh Sunah yang seperti itu tidak ada tuntunan dan contaoh dari Nabi Muhammad.

– Tidak ada Dam yang berkaitan dengan denda lantaran kita melakukan kesalahan. Dam artinya “mengalirkan darah” yang tak lain adalah setara dengan menyembelih binatang Qurban (untuk yg sedang berhaji namanya Hadyu). Hukum menyembelih Hadyu adalah WAJIB, tidak sah hajinya bila tanpa Hadyu (QS Al Baqarah : 196).

– Umumnya (sebagian besar KBIH) setiba di Makah setiap anggota  jamahnya diminta  membayar Dam berupa seekor kambing, atau bila dibayar uang setara dengan kira-kira 350-400 real. Uang tsb kemudian dibelikan kambing lalu disembelih sebagai binatang Dam. Yang seperti ini tidak ada tuntunannya, bahkan disinyalir ada unsur penipuan (Koran Pikiran Rakyat, 25-10-2010 : Calo dan Dam Haji Tamatuk).

– Lakukan setiap tahapan ibadah haji sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.  Niatkan dan usahakan dengan sungguh-sungguh agar tidak mendahului atau melambatkannya.

NEO

Pada bulan Juli 1994 komet Shoemaker-Levy 9 menabrak Yupiter yang mengakibatkan terbentuknya kawah-kawah raksasa. Para pakar lantas membuat simulasi komputer untuk mengetahui apa yang bakal terjadi andai saja yang tertubruk komet tersebut adalah Bumi. Hasilnya terbentuk sebuah kawah seukuran Benua Amerika dengan disertai kerusakan total pada mahluk hidup di Bumi (hanya yang sedang piknik ke angkasa luar saja yang selamat).

Semua benda alam di luar angkasa dengan berbagai ukuran yang datang mendekat, lewat di orbit Bumi, atau bahkan menghantam Bumi oleh para pakar Astronomi diwacanakan sebagai NEO (Near Earth Object). Asteroid, komet dan meteor adalah beberapa diantaranya, selain masih lebih banyak lagi yang lainnya yang masuk ke orbit Bumi dengan perioda ulang jutaan tahun.

Sejak doeloe kala dan terus sampai masa mendatang Bumi sudah biasa dan akan terus terbiasa terbentur-bentur dalam sistem pergerakan alam semesta. Di Bumi kita banyak menjumpai kawah-kawah raksasa dan berbagai lekukan seperti teluk dan dasar lautan yang amat dalam. Konon katanya semuanya itu (sebagian besar) adalah menggambarkan adanya benturan yang kuat pada masa yang lampau. Bahkan bentuk-bentuk muka Bumi seperti itu sebenarnya sudah banyak yang musnah karena tidak dapat bertahan lama akibat digerogoti cuaca dan proses denudasi.

Kawah Manicougan di Quibec, Kanada yang berdiameter 100 km adalah salah satu contoh jejak adanya tumbukan NEO yang konon terjadi pada 214 juta tahun yang lalu. Contoh yang lainnya Teluk Chesapeake di Washington yang terbentuk akibat dihantam meteor segede 18 km. pada 35 juta tahun yang lampau. Sekitar 70 juta tahun yang lampau NEO sebesar 10 km yang menghantam Bumi menyebabkan terbentuknya kawah berdiameter 22 km di Australia Tengah. Peristiwa ini sering dihubungkan dengan punahnya dinosaurus pada 65 juta tahun lalu.

Ada kalanya NEO tidak sampai menumbuk Bumi tapi sudah kebelet meledak di atmosfer seperti yang pernah terjadi 30 Juni 1908 di Tunguska, Siberia. Ledakannya mengakibatkan seluruh Eropah saat itu terang-benderang dan terjadi debu berbentuk cendawan yang membumbung ke angkasa hingga 85 km. serta terbakarnya hutan seluas 2.000 km persegi.

Masih banyak lagi jejak ulah NEO di Bumi. Lalu … apalagi gerangan dengan NEMESIS ?

Bukti-bukti geologis memperlihatkan bahwa peristiwa katastrophisme di Bumi berulang sekitar 26-30 juta tahun. Nah ….. konon katanya menurut dongeng bahwa ini ada sangkut pautnya dengan apa yang dijuluki Nemesis.

Evolusi Manusia ala Darwin

Pengertian evolusi sebenarnya sudah digunakan semenjak abad ke 6 SM. Awalnya istilah tersebut terutama dipakai dalam ilmu sosial budaya, sebelum biologi menirunya seperti yang dilakukan Aristoteles (abad ke 3 SM) yang mencoba menyusun hewan-hewan dari mulai yang rendah sampai yang tinggi. Dengan demikian evolusinya Darwin sebenarnya bukanlah barang anyar. Namun demikian, anehnya evolusi sosial yang dikembangkan oleh Karl Marx adalah lantaran si Marx “tuturut munding” si Darwin.

Evolusi yang terjadi pada biologi sebagaimana yang dikembangkan Darwin, oleh si Marx diterapkan pada sistem sosial masyarakat. Ia kemudian membuat teori Historis Materialisme dengan evolusi sosial sampai dengan masyarakat yang tidak berkelas. Begitulah ada sebagian orang yang menyimpulkan sebab-musabab lahirnya Marxisme. Tapi kalau saja kita membaca biografinya, maka kita pasti akan berkesimpulan beda banget.

Sekarang kita kembali dulu dengan soal evolusi ala Darwin. Orang banyak menyangka bahwa teori evolusi dari Darwin (khusus tentang manusia) ini tidak bener.

Yah.. memang orang boleh berkata bahwa teori Darwin itu tidak benar, tapi itu kalau orang tersebut berkesimpulan bahwa Darwin menyatakan moyang manusia adalah menyot. Apakah benar Darwin nyarita seperti itu ?

Si Darwin sebenarnya tidak secara khusus (serius) menceritakan tentang evolusi manusia. Menurutnya bahwa kehidupan species adalah dinamis, maksudnya dapat berubah karena ber-evolusi. Semua mahluk hidup adalah saudara (“duduluran”). Beliau hanya menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah “primitif”. Untuk sekadar mengambil model yang primitif tersebut, maka diambilkan contoh hewan yang paling dekat sekali kemiripannya dengan jelma, yaitu menyot (hanya sebagai contoh yang paling mirip !). Lalu dia menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia itu mirip kearah menyot (bukannya menyot !).

Darwin tidak menyatakan bahwa monyet seperti itulah yang menjadi manusia yang sekarang ini. Manusia memiliki bahasa (aktip) dan budaya, itulah salah satu perbedaan dari mahluk hidup lain yang manapun. Dengan demikian kendati ada beberapa bagian yang mirip seperti bentuk tangan, kaki dan tengkoraknya, maka adalah suatu hil yang mustahal bila manusia adalah seketurunan dengan bangsa sato.

Kita hanya bicara soal evolusi ala Darwin.  Bila ada seorang anak manusia yang hidup dalam hutan, setelah gede akankah ia berubah menjadi menyot ? Yang akan berubah tentu hanya psikologi dan kebudayaannya saja, yaitu jadi kuper. Demikian juga bila seekor anak menyot yang diasuh dan dibesarkan dalam lingungan manusia, maka tidak akan menyebabkan si anak menyot itu gedenya menjadi jelma. Labih dari itu psikologi dan budaya si menyot yang telah gede tersebut tetap saja jiga “Sarimin”.

Manusia memiliki akal. Akal tidak sekadar atau identik dengan otak. Akal yang dimaksud dalam manusia meliputi banyak hal sehingga dapat menyebabkan manusia berbudaya. Oleh sebab itu kendati sato juga berotak, segede apa pun otaknya seperti simpanse dan gogog, tetap ia kagak berbudaya. Betapapun contoh kedua jenis sato ini lebih gampang bila diajari sesuatu, tapi ia tidak dapat mewariskan kemampuannya kepada yang lain, termasuk ke anak cucunya. (resume dari tulisan Prof. T. Jacob, 1983).

RUGI

Apa itu Rugi …  ?

Dalam Qur’an surat Al’Asr (surat ke-103) dapat disimpulkan bahwa semua orang bila tidak menghargai waktu akan merugi. Kecuali bagi orang yang beriman yang mengisi waktunya tersebut dengan ibadah.

Dalam urusan waktu ini, orang-orang materialist – liberalist juga mengakui keberhargaannya, akan tetapi mereka selalu segalanya distandarkan pada materi atau duwit,  sehingga muncullah falsafah liberal “waktu adalah uang”.

Dalam soal untung – rugi kaitannya masalah waktu dan ibadah, Islam lebih jauh lagi menjelaskan bahwa bila ibadah kita pada hari ini kualitasnya sama dengan hari kemarin, maka itu adalah termasuk rugi.

Dalam dunia dagang atau jual beli, yang dimaksud rugi adalah bila harga jual barang lebih kecil ketimbang modal. Modal adalah harga beli barang ditambah ongkos dan segala tetek bengek. Kapan dalam hal ini baru dikatakan untung .. ?

Sebenarnya untung adalah manakala harga jual barang lebih besar dari pada modal. Sederhana sebenarnya, namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Pedagang sering kali tetap mengatakan rugi kendati harga jualnya sudah lebih dari pada modal, bahkan berkali lipat dari modal. Koq bisa gitu ….. ya iyaaa … laah …..  sebab si pedagang sejak awal sudah merancang harga jualnya 5 kali modal, eehhh ..  ternyata lakunya (misal) hanya 3 kali modal.

Para sopir angkot yang sehari-harinya biasa mendapatkan kelebihan setoran (setelah dipotong bensin, tpr, makan, rokok, dll)  tidak kurang dari 75 ribu perak. Pada suatu hari misalnya mereka hanya mendapat  55 ribu perak. Maka secara serempak para sopir angkot tersebut pasti akan bilang bahwa pada hari tersebut mereka mengalami kerugian.

Ketika bekerja di perusahaan yang lama si A mendapatkan upah 2 juta sebulan, setelah pindah ke perusahaan yang baru ia mendapat upah hanya 1,5 juta. Maka si A tentu akan bilang “saya rugi”. Apa begitu … ?

Ada suatu cerita lama yang aneh bin ajaib. Pada awal tahun 70-an Pertamina menyatakan dirinya rugi ratusan milyar rupiah (nilai US$ saat itu masih kisaran ratusan perak). Anehnya dimana, ajaibnya dimana … ? Tugas pertamina kan hanya mengeruk minyak dan gas lalu menjualnya dengan harga jauh diatas biaya produksi, koq … bisa rugi.

Masih ada lebih banyak lagi percontohan mengenai rugi, tapi dari beberapa yang didongengin diatas tentunya dapatlah sudah disimpulkan bahwa tersedia cukup banyak alasan untuk dapat mengatakan rugi.

Kembali ke dongeng sopir angkot. Dulu (awal 1990-an) di kampung saya juga pernah punya angkot . Tiap harinya saat itu sopir (+kernek) mendapat kelebihan 20 ribu perak. Suatu hari si sopir nggak setor, alasannya sepi, nggak ada muatan, habis untuk bensin, calo, bayar tpr dan segala macam. Selidik punya selidik, eehhh …. ternyata sebenarnya pendapatan pada hari itu setelah dipotong bensin, tpr, makan, udud, dll sisanya cuman 20 ribu perak !!

Tanggung Jawab Pemimpin

Akibat dosa-dosanya sewaktu di Dunia, sang Malaikat menyuruh seorang anak agar memasuki Neraka, sementara ayahnya yang “shaleh” dipersilakan menghuni Syurga.

Sang anak protes kepada Malaikat : “Mengapa aku masuk Neraka sedangkan ayahku masuuk Syurga ?”

Malaikat menjawab : “Ayahmu orang shalih, rajin beribadah, suka beramal, tidak korupsi, tidak pernah mau menerima pemberian dari siapapun bila ia tahu persis bahwa  itu dari hasil korupsi, dan etc….. . Sedangkan kamu nggak pernah shalat, dan …… banyak melakukan perbuatan dosa-dosa yang lainnya. Itulah sebabnya ayahmu masuk Syurga sedangkan kamu masuk Neraka”.

Sang Anak berkata lagi : “Ayahku  memang egois, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak pernah mengajariku beribadah, tidak pernah menegurku bila aku melakukan kesalahan, bahkan ia cenderung membiarkan saja bila aku keliru tanpa menegur. Tiap bulan aku selalu datang kepadanya sembari membawa oleh-oleh dan semua apa yang beliau minta. Ayahku selalu menerima dan tampak merasa senang terhadap semua pemberianku tersebut. Kendati yang sesungguhnya tahu, tetapi ayahku tak mau peduli dengan cara apa sebenarnya aku mendapatkan itu semua. Ayahku hanya berprinsip  bahwa yang penting dirinya tidak pernah berbuat dosa”.

“Kalau begitu, ayahmu lebih pantas masuk Neraka, dan kamu (sang anak) silakan masuk Syurga “, demikian keputusan sang Malaikat.