Pengertian evolusi sebenarnya sudah digunakan semenjak abad ke 6 SM. Awalnya istilah tersebut terutama dipakai dalam ilmu sosial budaya, sebelum biologi menirunya seperti yang dilakukan Aristoteles (abad ke 3 SM) yang mencoba menyusun hewan-hewan dari mulai yang rendah sampai yang tinggi. Dengan demikian evolusinya Darwin sebenarnya bukanlah barang anyar. Namun demikian, anehnya evolusi sosial yang dikembangkan oleh Karl Marx adalah lantaran si Marx “tuturut munding” si Darwin.
Evolusi yang terjadi pada biologi sebagaimana yang dikembangkan Darwin, oleh si Marx diterapkan pada sistem sosial masyarakat. Ia kemudian membuat teori Historis Materialisme dengan evolusi sosial sampai dengan masyarakat yang tidak berkelas. Begitulah ada sebagian orang yang menyimpulkan sebab-musabab lahirnya Marxisme. Tapi kalau saja kita membaca biografinya, maka kita pasti akan berkesimpulan beda banget.
Sekarang kita kembali dulu dengan soal evolusi ala Darwin. Orang banyak menyangka bahwa teori evolusi dari Darwin (khusus tentang manusia) ini tidak bener.
Yah.. memang orang boleh berkata bahwa teori Darwin itu tidak benar, tapi itu kalau orang tersebut berkesimpulan bahwa Darwin menyatakan moyang manusia adalah menyot. Apakah benar Darwin nyarita seperti itu ?
Si Darwin sebenarnya tidak secara khusus (serius) menceritakan tentang evolusi manusia. Menurutnya bahwa kehidupan species adalah dinamis, maksudnya dapat berubah karena ber-evolusi. Semua mahluk hidup adalah saudara (“duduluran”). Beliau hanya menyatakan bahwa nenek moyang manusia adalah “primitif”. Untuk sekadar mengambil model yang primitif tersebut, maka diambilkan contoh hewan yang paling dekat sekali kemiripannya dengan jelma, yaitu menyot (hanya sebagai contoh yang paling mirip !). Lalu dia menyimpulkan bahwa nenek moyang manusia itu mirip kearah menyot (bukannya menyot !).
Darwin tidak menyatakan bahwa monyet seperti itulah yang menjadi manusia yang sekarang ini. Manusia memiliki bahasa (aktip) dan budaya, itulah salah satu perbedaan dari mahluk hidup lain yang manapun. Dengan demikian kendati ada beberapa bagian yang mirip seperti bentuk tangan, kaki dan tengkoraknya, maka adalah suatu hil yang mustahal bila manusia adalah seketurunan dengan bangsa sato.
Kita hanya bicara soal evolusi ala Darwin. Bila ada seorang anak manusia yang hidup dalam hutan, setelah gede akankah ia berubah menjadi menyot ? Yang akan berubah tentu hanya psikologi dan kebudayaannya saja, yaitu jadi kuper. Demikian juga bila seekor anak menyot yang diasuh dan dibesarkan dalam lingungan manusia, maka tidak akan menyebabkan si anak menyot itu gedenya menjadi jelma. Labih dari itu psikologi dan budaya si menyot yang telah gede tersebut tetap saja jiga “Sarimin”.
Manusia memiliki akal. Akal tidak sekadar atau identik dengan otak. Akal yang dimaksud dalam manusia meliputi banyak hal sehingga dapat menyebabkan manusia berbudaya. Oleh sebab itu kendati sato juga berotak, segede apa pun otaknya seperti simpanse dan gogog, tetap ia kagak berbudaya. Betapapun contoh kedua jenis sato ini lebih gampang bila diajari sesuatu, tapi ia tidak dapat mewariskan kemampuannya kepada yang lain, termasuk ke anak cucunya. (resume dari tulisan Prof. T. Jacob, 1983).
gw se7 tuh gw kirain darwin salah pengaartian.