Apa itu Rugi … ?
Dalam Qur’an surat Al’Asr (surat ke-103) dapat disimpulkan bahwa semua orang bila tidak menghargai waktu akan merugi. Kecuali bagi orang yang beriman yang mengisi waktunya tersebut dengan ibadah.
Dalam urusan waktu ini, orang-orang materialist – liberalist juga mengakui keberhargaannya, akan tetapi mereka selalu segalanya distandarkan pada materi atau duwit, sehingga muncullah falsafah liberal “waktu adalah uang”.
Dalam soal untung – rugi kaitannya masalah waktu dan ibadah, Islam lebih jauh lagi menjelaskan bahwa bila ibadah kita pada hari ini kualitasnya sama dengan hari kemarin, maka itu adalah termasuk rugi.
Dalam dunia dagang atau jual beli, yang dimaksud rugi adalah bila harga jual barang lebih kecil ketimbang modal. Modal adalah harga beli barang ditambah ongkos dan segala tetek bengek. Kapan dalam hal ini baru dikatakan untung .. ?
Sebenarnya untung adalah manakala harga jual barang lebih besar dari pada modal. Sederhana sebenarnya, namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Pedagang sering kali tetap mengatakan rugi kendati harga jualnya sudah lebih dari pada modal, bahkan berkali lipat dari modal. Koq bisa gitu ….. ya iyaaa … laah ….. sebab si pedagang sejak awal sudah merancang harga jualnya 5 kali modal, eehhh .. ternyata lakunya (misal) hanya 3 kali modal.
Para sopir angkot yang sehari-harinya biasa mendapatkan kelebihan setoran (setelah dipotong bensin, tpr, makan, rokok, dll) tidak kurang dari 75 ribu perak. Pada suatu hari misalnya mereka hanya mendapat 55 ribu perak. Maka secara serempak para sopir angkot tersebut pasti akan bilang bahwa pada hari tersebut mereka mengalami kerugian.
Ketika bekerja di perusahaan yang lama si A mendapatkan upah 2 juta sebulan, setelah pindah ke perusahaan yang baru ia mendapat upah hanya 1,5 juta. Maka si A tentu akan bilang “saya rugi”. Apa begitu … ?
Ada suatu cerita lama yang aneh bin ajaib. Pada awal tahun 70-an Pertamina menyatakan dirinya rugi ratusan milyar rupiah (nilai US$ saat itu masih kisaran ratusan perak). Anehnya dimana, ajaibnya dimana … ? Tugas pertamina kan hanya mengeruk minyak dan gas lalu menjualnya dengan harga jauh diatas biaya produksi, koq … bisa rugi.
Masih ada lebih banyak lagi percontohan mengenai rugi, tapi dari beberapa yang didongengin diatas tentunya dapatlah sudah disimpulkan bahwa tersedia cukup banyak alasan untuk dapat mengatakan rugi.
Kembali ke dongeng sopir angkot. Dulu (awal 1990-an) di kampung saya juga pernah punya angkot . Tiap harinya saat itu sopir (+kernek) mendapat kelebihan 20 ribu perak. Suatu hari si sopir nggak setor, alasannya sepi, nggak ada muatan, habis untuk bensin, calo, bayar tpr dan segala macam. Selidik punya selidik, eehhh …. ternyata sebenarnya pendapatan pada hari itu setelah dipotong bensin, tpr, makan, udud, dll sisanya cuman 20 ribu perak !!
Rugi terus .. !!