Akibat dosa-dosanya sewaktu di Dunia, sang Malaikat menyuruh seorang anak agar memasuki Neraka, sementara ayahnya yang “shaleh” dipersilakan menghuni Syurga.
Sang anak protes kepada Malaikat : “Mengapa aku masuk Neraka sedangkan ayahku masuuk Syurga ?”
Malaikat menjawab : “Ayahmu orang shalih, rajin beribadah, suka beramal, tidak korupsi, tidak pernah mau menerima pemberian dari siapapun bila ia tahu persis bahwa itu dari hasil korupsi, dan etc….. . Sedangkan kamu nggak pernah shalat, dan …… banyak melakukan perbuatan dosa-dosa yang lainnya. Itulah sebabnya ayahmu masuk Syurga sedangkan kamu masuk Neraka”.
Sang Anak berkata lagi : “Ayahku memang egois, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak pernah mengajariku beribadah, tidak pernah menegurku bila aku melakukan kesalahan, bahkan ia cenderung membiarkan saja bila aku keliru tanpa menegur. Tiap bulan aku selalu datang kepadanya sembari membawa oleh-oleh dan semua apa yang beliau minta. Ayahku selalu menerima dan tampak merasa senang terhadap semua pemberianku tersebut. Kendati yang sesungguhnya tahu, tetapi ayahku tak mau peduli dengan cara apa sebenarnya aku mendapatkan itu semua. Ayahku hanya berprinsip bahwa yang penting dirinya tidak pernah berbuat dosa”.
“Kalau begitu, ayahmu lebih pantas masuk Neraka, dan kamu (sang anak) silakan masuk Syurga “, demikian keputusan sang Malaikat.