It took less than an hour to make the atoms, a few hundred million years to make the stars and plannets, but three billion years to make man (George Gamow : The Creation of the Universe).
Sewaktu medatangi pusat industri keramik di Plered, Purwakarta, Jawa Barat, saya melihat banyak guci yang secara kasat mata (berdasarkan ciri, motif, dsb, dsb…..) adalah dipastikan merupakan guci-guci tua yang sudah berumur ribuan tahun. Kecut .. nggak berani menawar karena dibayang-bayangi kecemasan lantaran harganya pasti amat mauhal sekali. Eeehh .. ternyata si penjualnya (yang notabene adalah sebagai pembuatnya) dengan jujur menjelaskan bahwa guci-guci tersebut adalah produksi asli Plered (yg artinya baru dibuat “kemarin”.).
Haruskah kita masih juga tidak percaya bila si pembuatnya sendiri menjelaskan demikian ??
Akan halnya Bumi dan Alam Semesta, secara kasat mata (berdasarkan risert, analisis dsb…. dsb.) adalah berumur jutaan bahkan milyaran tahun. Namun bila kita mau mencoba dengan menggunakan “Analogi Keramik Plered” , jangan-jangan … umur Alam Semesta (termasuk Bumi, tentunya ) bisa boleh jadi hanya selisih sehari dengan umur terciptanya manusia.
Waaaaahhhhh …. teori ini sungguh nggak ilmiah dan amat ngawur !. Sejujurnya memang mungkin demikian, tapi mari kita merenung sejenak …… “bila bukan hanya manusia … adakah mahluk lain di alam ini yang peduli untuk memikirkan semua yang ada ini … ?” Andai jawabnya “tidak ada”, maka mengapa mesti diperlukan jeda yang amat begitu panjang antara diciptakannya Alam Semesta ini dengan diciptakannya manusia yang akan memikirkan segalanya ?